Bisnis Batu Giok Myanmar Ternodai Kasus Penyelundupan

Bisnis batu giok Myanmar dengan kualitas paling baik sedunia kini banyak orang mulai mengenalnya dengan sebutan Chinjalu dan berharga sangat mahal. Myanmar adalah negara penghasil produksi batu giok paling masif dan salah satu yang terbesar di dunia sehingga memancing para mafia untuk masuk ke lini bisnis tersebut.

Jurnalis dari media internasional yaitu BBC berniat untuk menelusuri praktek gelap di balik bisnis batu mulia ini sambil menguatkan tekad. Ia memulainya penelusurannya dengan berkunjung ke pasar penjualan batu giok paling populer di dunia, tepatnya berlokasi di Mandalay, Myanmar Utara.

Bisnis Batu Giok Myanmar

Pasar Mandalay berdiri kokoh dan memiliki area yang cukup luas karena harus menampung sedemikian banyaknya pedagang yang memadati lokasi itu. Berderet penuh para penjaja dengan semangat memanggil pelanggan hilir mudik karena ingin memburu batu giok Chinjalu berharap menemukan harga miring.

Para pedagang batu giok tersebut kebanyakan berasal dari China, tidak pernah lelah bersuara lantang sambil beradu riuhnya bunyi batu berserakan. Sekumpulan seller asing ini pun menjalani praktek jual beli dengan penduduk lokal menggunakan bahasa campuran antara mandarin dan Myanmar.

Pada zaman sekarang harga batu giok asal Myanmar telah mencapai puncak masa kejayaannya dengan nilai melebihi 8 miliar dolar AS setiap tahun. Mayoritas batu Myanmar diekspor ke China seiring membaiknya hubungan bilateral negara di antara keduanya menandakan berakhirnya era ditaktor kemiliteran di sana pada 2011 silam.

Bisnis Batu Giok Myanmar Berbenturan Dengan Banyak Kepentingan

Bisnis batu giok Myanmar sayang sekali harus dinodai dengan begitu banyaknya tangan jahil maupun kriminal yang bercampur aduk akan banyaknya kepentingan. Ada satu daerah di Myanmar yang berbatasan dengan area Nagaland, India, yaitu sebuah kota bernama Kachin dengan metode pemerintahan semi otonom.

Kachin dulunya sempat memberontak kepada pemerintahan pusat negara Myanmar yang mengandalkan pasukan lokal berjulukan Pasukan Kemerdekaan Kachin atau KIA. Mereka sempat mengadakan gencatan senjata pada tahun 1994, namun suasanya masih terasa begitu tegang dan berbagai tindak kekerasan pun kerap terjadi antar tentara.

Bisnis Batu Giok Myanmar Ternodai Kasus Penyelundupan

Pemerintah tidak ingin begitu saja membiarkan negara bagian ini terlepas dari pusatnya yaitu Myanmar karena ada alasan khusus. Jalur Kachin merupakan tempat yang sering dilalui oleh perdagangan batu giok sehingga pemerintah pusat ingin memastikan bahwasanya mereka adalah pemegang kontrol tunggalnya.

Sang jurnalis BBC beruntung sekali karena berhasil menemukan narasumber yang bersedia untuk diwawancarai seputar penyelundupan batu giok. Namanya adalah Breng Mai, seorang pemuda berkulit sawo matang dan mengenakan tshirt berlogo KIA sambil menghisap sebatang rokok di mulutnya terselip manis.

Ketika sampai di lokasi, bentuknya mirip toko biasa dengan berbagai macam rak berisi bahan pokok seperti pasta gigi, telur, penganan ringan, krupuk, maupun dupa. Namun tatkala kita mampir ke halaman belakangnya, barulah nampak ada begitu banyak batu giok berserakan dalam jumlah besar.

Berebut Kekayaan Berupa Batu Mulia Bernama Chinjalu

Ketika Breng membuka tirai rumah di halaman belakang, betapa terkejutnya sang jurnalis karena belum pernah melihat pemandangan seperti itu seumur hidupnya. Ia berujar bahwasanya laksana melihat dunia lain macam planet kripton di film Superman, penuh batu hijau berkilauan.

Bisnis batu giok Myanmar bernuansa pasar gelap dijalankan dari ruangan kumuh tersebut, dengan jenis Chinjalu sebagai permintaan pokoknya. Chinjalu memiliki arti sebagai batu mulia giok terbaik dan memancarkan sinar paling berkilau. Toko sembako di bagian depan rumah hanyalah kamuflase semata untuk menghindari aparat setempat menjadi curiga dan ‘mengganggu’ aktifitas mereka.

Berebut Kekayaan Bisnis Batu Giok Myanmar Bernama Chinjalu

Breng Mai sudah terbiasa dengan kondisi tersebut karena ia sudah menggeluti pekerjaan seputar batu giok semenjak usianya masih belia. Bahkan lebih ekstrimnya lagi, kita dapat menemukan anak di bawah umur yang dipekerjakan sebagai tenaga kasar di pertambangan ilegal batu giok Chinjalu itu.

Pekerjaan menambang batu giok secara amatiran sebetulnya masuk dalam kategori berbahaya karena acap kali berhadapan dengan tanah longsor. Breng sendiri sempat mengalami kejadian longsor dan beruntungnya ia selamat, walaupun harus kehilangan seorang sahabat baiknya selamanya karena tertimbun bebatuan.

Perjuangannya belum berhenti sampai di situ, karena para pengrajin batu giok ilegal tersebut harus menyediakan sejumlah uang yang besar. Nantinya uang tersebut akan digunakan untuk membayar pajak kepada pemerintah sebagai syarat mutlak jika ingin berjualan batu giok.